MATERI · Ekologi & lingkungan

Kehidupan laut

Plankton, terumbu karang, zona laut, dan cara menjaga laut Indonesia.

Jenjang yang disarankan: SD, SMP, SMA, kuliah.

Penjelasan untuk SD

Laut menutupi sebagian besar permukaan bumi. Indonesia adalah negara kepulauan dengan belasan ribu pulau, sehingga laut sangat dekat dengan kehidupan kita.

Di laut hidup banyak sekali makhluk:

Terumbu karang seperti hutan di bawah laut. Karang adalah hewan kecil yang membangun rumah dari kapur. Terumbu karang menjadi tempat tinggal, tempat makan, dan tempat bertelur banyak ikan.

Laut kita perlu dijaga. Jangan buang sampah plastik ke laut atau sungai, jangan menginjak karang saat berenang, dan jangan membeli hiasan dari karang atau cangkang penyu.

Poin kunci

Aktivitas

Buat diorama terumbu karang dari barang bekas. Tempelkan gambar makhluk laut di tempat hidupnya: plankton di air, ikan di sekitar karang, dan teripang di dasar.

Penjelasan untuk SMP

Pembagian zona laut:

Cara hidup makhluk laut:

Ekosistem pesisir Indonesia saling terhubung. Hutan bakau menahan lumpur dan menjadi tempat pembesaran ikan dan udang; padang lamun menjadi makanan duyung dan penyu; terumbu karang menjadi rumah ribuan spesies. Ikan muda sering tumbuh di bakau dan lamun sebelum pindah ke terumbu.

Indonesia termasuk Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), wilayah dengan keragaman karang dan ikan karang tertinggi di dunia; Raja Ampat di Papua Barat Daya adalah salah satu pusatnya.

Ancaman: sampah plastik dan mikroplastik, penangkapan ikan berlebihan, penangkapan dengan bom dan racun sianida, pemutihan karang akibat laut yang memanas, dan hilangnya bakau. Kawasan konservasi perairan melindungi tempat ikan berkembang biak sehingga hasil tangkapan di sekitarnya dapat meningkat.

Poin kunci

Aktivitas

Lakukan audit sampah di sekolah atau pantai terdekat: kumpulkan, pilah, dan hitung sampah plastik selama satu minggu. Diskusikan berapa banyak yang dapat berakhir di laut dan bagaimana menguranginya.

Penjelasan untuk SMA

Adaptasi hidup di laut:

Produktivitas laut dibatasi cahaya dan unsur hara. Laut lepas tropis jernih tetapi miskin hara, sedangkan wilayah upwelling, tempat air dalam yang kaya hara naik ke permukaan, sangat produktif. Di Indonesia, upwelling musiman terjadi misalnya di Laut Banda dan selatan Jawa.

Arus Lintas Indonesia (Arlindo) mengalirkan air dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia melalui selat-selat di Indonesia dan memengaruhi iklim regional.

Laut dan perubahan iklim: laut menyerap sebagian besar panas tambahan dan sebagian karbon dioksida buatan manusia. Akibatnya suhu laut naik (memicu pemutihan karang) dan air laut menjadi lebih asam (pengasaman laut), yang menyulitkan karang, kerang, dan plankton bercangkang kapur membentuk rangka. Bakau dan lamun menyimpan karbon biru dalam sedimennya sehingga melindunginya juga membantu mitigasi iklim.

Poin kunci

Aktivitas

Uji pengaruh pengasaman: rendam potongan cangkang kerang atau kapur tulis dalam air, air soda, dan cuka encer. Timbang sebelum dan sesudah 48 jam, lalu kaitkan hasilnya dengan pengasaman laut.

Penjelasan untuk kuliah

Fitoplankton laut melakukan sekitar separuh produksi primer bersih bumi, walaupun biomassanya kecil dibanding tumbuhan darat, karena laju pergantiannya sangat cepat. Sebagian karbon organik tenggelam sebagai partikel dan kotoran hewan ke laut dalam melalui pompa karbon biologis, sedangkan lingkaran mikroba mengembalikan karbon organik terlarut ke jaring makanan melalui bakteri dan protista.

Migrasi vertikal harian: banyak zooplankton dan ikan kecil naik ke permukaan pada malam hari untuk makan dan turun ke kedalaman pada siang hari untuk menghindari pemangsa. Pergerakan ini dianggap sebagai migrasi hewan terbesar di bumi berdasarkan biomassa dan ikut memindahkan karbon ke laut dalam.

Keragaman Segitiga Terumbu Karang dijelaskan oleh beberapa hipotesis yang tidak saling meniadakan: pusat asal spesies, pusat tumpang tindih fauna Samudra Hindia dan Pasifik, serta pusat akumulasi spesies yang terbawa arus. Data filogenetik dan genetika populasi dipakai untuk menguji hipotesis tersebut.

Tekanan antropogenik meliputi pemanasan dan gelombang panas laut, pengasaman (pH permukaan laut turun sekitar 0,1 sejak masa praindustri), deoksigenasi, penangkapan berlebihan, dan pencemaran. Efektivitas kawasan konservasi perairan bergantung pada ukuran, umur, tingkat perlindungan, penegakan aturan, dan keterlibatan masyarakat. Pemantauan modern memakai DNA lingkungan, akustik pasif, satelit warna laut, dan data warga seperti iNaturalist.

Poin kunci

Aktivitas

Unduh data suhu permukaan laut atau klorofil dari satelit untuk perairan Indonesia (misalnya dari portal data NOAA atau Copernicus). Petakan pola musiman upwelling dan bandingkan dengan musim angin muson.

Spesies contoh

Materi terkait

Berlatih

Bacaan lanjutan